I’m glad we spent the night laughing and running at fire exits trying to find an open door after a midnight movie session at the cinema

I’m glad we killed the time laughing and judging groceries they sold at the supermarket

I’m glad we tried that 11,999k new phone at the gadget store and ask the salesman made-up questions so that we could hold on to it longer

I’m glad we joked around about ghosts pretending as Go-Jek drivers picking us up

I’m glad I had my ‘youth moments’ with you

I’m glad I feel alive tonight


11 Mei 2017, 00.12

Posted on

Saturday, May 13, 2017

Category

,

,

We are told to cover our true emotion from the public for the sake of good names and reputation but we keep doing it to the people who matter to us as well

But who told you to cover your emotion? Is it your parents, when they first took you out to that restaurant and told you to shut up when you were angry at your little sister -  or when you rambled excitedly about that Happy Meal toy you just got?

Or is it your teacher, who told you to stop crying when that bully hit you in your stomach? Is it your friends, who told you to not to seem very excited when your crush walked past you? Is it your eight-grade crush, who taught you about not giving clear signs and intentions when he sat next to you and laughed with you and texted you every day and moved away and still dated that girl anyway?


Now you’re in the edge of your teenage years, and you’re confused about it?





- N. S

Posted on

Tuesday, November 1, 2016


I am an introvert, or at least I see myself as an introvert. And I think that it’s true that I am an introvert, because I see introvert characteristics on myself.
You are an extrovert, or at least I see you as an extrovert. And I think that it’s true that you are extrovert, because I see extrovert characteristics on you.
I’d rather sit at home and read or watch movies rather than going out to a social event.
You, I can see you hanging out in every parties and meetings that are happening.
Some people say that I’m not very ‘friendly-looking’ and ‘approachable-looking’, but I’m glad to say that people who have approached me and managed to know me find myself as a good person, except maybe some people I’m not comfortable with.
I can tell from the first time I saw you that you might seem ‘cold’, but you can be warm to people.  Maybe because of your good look you socialize better and faster than me. People know you earlier than they know me. People want to be friends with you. Especially girls, I can see that.
I’m not very good at talking to strangers. I dislike those ‘basa-basi’ talks where no profits are made and no emotion and passion is involved. I can be a better talker to friends that I felt have been closer to my heart. I can even crack jokes and laugh at them myself, in case you haven’t known it.
You are a very good talker. You talk to everyone – despite their being strangers or old friends – just as well as I talk to my good friends alone. You can be open to people even if they haven’t gotten close enough to be called as your friends.

Today you talked to me, but I couldn’t talk to you without being self-conscious.
Today you told me about your weakness, but I couldn’t tell you mine.
I think what I did today made me seem like a terribly serious person.
(Correction: a boring, uninteresting, conceited person.)

I’m sorry. I didn’t mean to do those things.
I actually want to get close to you because you are such a nice person.

I have never met a person like you.

So, would you like to be friends with me?


would you be my friend?

Posted on

Saturday, January 30, 2016

Category

,

Aneh ya, judul posting kali ini.

Sebelum mulai, hi again everyone, sorry for the long absence. I've been busy with my "new life".
Yep, a life of a no-longer-a-student-but-a-'mahasiswa'.

And now, let's start.

Karena (alhamdulillah..) saya sudah libur dan berada di rumah kembali, saya akhirnya punya waktu luang lagi. Waktu luang ini saya gunakan untuk hal-hal yang 'produktif', misalnya untuk tidur, membaca novel, dan 'catching up' dengan teman-teman lama.

Di antara aktivitas saya yang super produktif ini, saya menyempatkan diri melihat foto-foto event-event yang katanya 'hip' akhir-akhir ini, lewat Instagram. Misalnya, event yang disebut event 'dugem dan dance' terbesar di Jakarta. Dari foto-foto di sana, saya mendapati banyak akun orang-orang 'hits'. Kemudian saya lihat pula foto-foto mereka, yang kebanyakan menggambarkan aktivitas mereka sehari-hari.

Dalam hati saya terbesit rasa ingin hidup seperti mereka, hidup yang care free, hidup yang kelihatannya benar-benar "hidup". Mereka bersenang-senang, making memories bersama teman-teman mereka. Sementara itu, saya di sini sehari-hari berkutat dengan kuliah dan tanggung jawab saya yang rasanya tak habis-habis. Rasanya saya tidak making memories.

Tapi di sisi lain, saya bahagia dengan kehidupan yang saya jalani. Saya bahagia dapat berkuliah di kampus yang saya idam-idamkan sejak kecil. Saya bahagia punya teman-teman yang baik, memotivasi saya untuk belajar. Saya bahagia punya kehidupan yang simple, tidak muluk-muluk hingga membuat kedua orang tua saya cemas.

Jujur, saya ingin sesekali mencoba 'hidup dalam sepatu orang-orang hits' tadi. Saya penasaran, bagaimana mereka melihat hal-hal yang menurut mereka biasa namun menurut saya luar biasa. Dan sebaliknya, bagaimana pendapat mereka tentang hal-hal yang menurut saya biasa, namun luar biasa bagi mereka.


Tetapi, bila Allah memberikan saya pilihan untuk memilih jalan hidup, saya memilih hidup seperti yang saya jalani sekarang.

Despite all those glamour dresses and cliques.

The Life I Kinda Want But Somehow I Kinda Don't

Posted on

Thursday, December 24, 2015

Besok tanggal 27 Juli. Besok hari pertama kembali ke sekolah.

Ternyata, tidak untuk saya.

Biasanya, malam ini saya sibuk menyetrika kerudung dan menyiapkan seragam. Biasanya, malam ini saya memasukkan buku dan tempat pensil ke dalam tas yang sudah dicuci bersih.

Sekarang, saya bukan anak sekolah lagi.

Di malam-malam seperti inilah saya merasa sangat rindu menjadi anak sekolah. Anak sekolah yang setiap hari bangun subuh, berangkat pagi-pagi, pulang sore, dan tidur terlambat malamnya karena belajar dan mengerjakan PR untuk esok hari. It's a tiring routine, but I sure miss it.

Tidak terasa, sudah dua bulan saya 'tidak menjadi anak sekolah.'

Sebenarnya sudah lama saya menanti-nanti saat ini. Saat di mana akhirnya saya tidak perlu ikut merasakan 'rusuhnya' hari pertama sekolah. Saat di mana saya bisa 'lepas' dari rutinitas hari sekolah. Tapi, sekarang saya malah ingin memutar waktu kembali saat saya masih kelas 12 dulu.

Sebentar lagi, fase baru hidup saya akan dimulai. Saya tidak lagi menjadi sekadar 'siswa', tetapi 'mahasiswa'.

Belum tentu saya akan bertemu dengan orang-orang menyenangkan seperti di SMA dulu. Belum tentu saya akan memiliki teman-teman sehebat teman-teman saya sewaktu SMA. Belum tentu saya akan diajar oleh dosen-dosen seperti guru-guru saya saat SMA.

Orang bilang masa-masa duduk di bangku sekolah adalah masa-masa terindah.

Saya harap itu salah.
I hope better things are yet to come. I hope the things we left behind won't be better than the things we're about to meet.

(Bukan) Hari Pertama Sekolah

Posted on

Sunday, July 26, 2015

Category

,

,

Sebentar lagi saya resmi jadi mahasiswa. Ya, sangat tidak terasa betapa waktu berjalan dengan sangat cepat.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya sejak dua tahun lalu. Tanggal 9 Mei lalu, saat saya sedang menemani adik saa menunggu mulainya konser Katy Perry, orang tua saya menyampaikan sebuah kabar gembira bagi saya lewat telepon. Alhamdulillah, saya menjadi mahasiswa di perguruan tinggi almamater kedua orang tua saya.

********************

Berarti, sebentar lagi saya akan meninggalkan lingkungan yang selama ini saya kenal. Saya akan bertemu orang-orang baru, saya akan belajar di tempat yang baru, dan saya akan mempelajari hal-hal dan kebiasaan-kebiasaan baru.

Selama 12 tahun saya bersekolah di lingkungan yang sama. Sekolah saya adalah sebuah yayasan yang memiliki lembaga pendidikan mulai TK sampai SMA. Saya di sana sejak SD. Maka tentu saja, saya tidak banyak berganti teman saat saya berganti sekolah.

Dan baru-baru ini saya berpikir, bagaimana saya akan beradaptasi di lingkungan dengan orang-orang yang sama sekali berbeda?

Saya bukan orang yang senang bersosialisasi. Saya lebih suka membaca buku di rumah daripada pergi ke prom night. I'm not great in small talks. Kadang dengan teman dekat pun saya lebih banyak diam dan membiarkan mereka terus mengobrol, sedangkan saya mendengar dan mengamati. Apalagi, teman-teman baru saya mengira saya orang yang judes waktu mereka belum mengenal saya (benar, mereka ngasih tau saya).

Jujur, sebagian diri saya merasa takut sekarang. Takut nantinya saya tidak bisa bergaul dengan bebas sebagaimana saya bergaul dengan teman-teman SMA saya, yang kebanyakan sudah mengenal saya sejak SD. Takut saya tidak akan mendapat teman-teman sebaik teman-teman yang saya tinggalkan.

Tapi, sebagian dari diri saya merasa bahwa ini adalah kesempatan baik to start over. Pasti semua orang pernah mengalami hal-hal memalukan ataupun yang membuat mereka merasa tidak enak. Di setiap lingkungan, tidak mungkin tidak ada cap pada orang-orang tertentu. Kadang saya ingin terlepas dari apa yang ada di sini, tapi dengan teman-teman yang sedikit sekali berganti sejak SD, kemungkinan benar-benar 'bebas' sepertinya sangat kecil. Saya tidak akan berkembang jika lingkungan saya tidak berubah.

Lagipula, saya lelah dengan lingkungan saya yang lama. Begitu lelahnya hingga di waktu-waktu tertentu saya berharap bisa cepat-cepat pindah ke Bandung dan kuliah.


Jadi, saya rasa memang all things come with both good and bad sides.

Mungkin saya harus lebih sering tersenyum dan terlihat ramah.

Perkenalan

Posted on

Monday, July 20, 2015

Category

Mungkin sering kita menemukan, di tengah kemacetan, mobil yang sering mencari-cari celah sendiri. Mobil yang semacam itulah yang menyebabkan kemacetan terasa makin menyiksa. Sudah macet, kita yang sudah bersabar bermenit-menit tahu-tahu disalip seenaknya oleh orang yang baru datang. Belum lagi kalau saat ia menyalip, ia melintang menghalangi jalan di depan kita.

Seharusnya, kalau semua mobil itu berjalan lurus saja tanpa ada yang menyalip, kemacetan dan keruwetan lalu lintas akan lebih mudah untuk diurai dan dilewati.

Pengalaman seperti itulah yang baru saja saya rasakan.

Saat saya berusaha untuk tetap lurus, tetap berjalan sebagaimana mestinya, tahu-tahu ada orang-orang yang ingin 'menyalip' dan mencari jalan pintas.

Dan saya, karena saya tidak menginginkan konflik, membiarkan itu terjadi.

Sebenarnya bisa saja saya melapor. Bisa saja saya berteriak dan menjadi whistle blower. Tapi saya berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa Allah Maha Tahu. Bahwa setiap perbuatan manusia akan dibalas setimpal dengan apa yang telah ia perbuat. Bahwa Allah Maha Adil. Bahwa 'Tuhan tahu, tapi menunggu' (Edensor, Andrea Hirata). Tapi terkadang mengingat hal ini membuat saya tidak dapat menahan perasaan.

Rasanya mau meledak.

Jalan Pintas atau Jalan Lurus?

Posted on

Thursday, April 16, 2015

Category

,

"Amar Ma'ruf Nahi Munkar."


Ucapan tersebut sering saya dengar akhir-akhir ini, khususnya di sekolah, disampaikan oleh guru-guru di kelas. Mungkin mereka ingin mengingatkan kami, murid-muridnya yang sebentar lagi (in sya Allah) lulus dan keluar dari lingkungan mereka, menuju dunia masyarakat yang lebih luas.


Awalnya saya menanggapi ucapan ini dengan biasa saja, bahkan mungkin hanya sebentar-sebentar saya ingat, lalu tertimbun kembali oleh hal-hal lain. Tapi suatu hari, perkataan salah seorang guru menjadikan ucapan ini bermakna lain untuk pertama kalinya.

           "Kalian harus ingat selalu: Amar Ma'ruf Nahi Munkar, berbuatlah kebaikan dan cegahlah keburukan. Memang perkataan ini seakan mudah saja dilaksanakan."

          "Amar Ma'ruf, berbuat kebaikan itu memang sebenarnya mudah. Misalnya barang orang lain terjatuh, kita tinggal mengambilkannya dan kita telah melaksanakan Amar Ma'ruf."

          "Tetapi Nahi Munkar, mencegah orang lain berbuat buruk itu jauh lebih sulit. Jangankan mencegah orang lain, mencegah diri sendiri pun tidak selalu berhasil."


Dan kalimat terakhir tadi membuat saya berpikir. Benarlah ucapan beliau. Mencegah keburukan itu perlu keberanian dan usaha ekstra dibanding berbuat kebaikan. Padahal Nahi Munkar itu hukumnya wajib dalam ajaran agama yang saya anut. Mengapa begitu sulit?

Banyak juga alasan yang terpikir oleh saya, tapi akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: karena kita takut. 

Kita takut dikatakan 'sok alim', kita takut dijauhi orang yang kita tegur, kita takut tidak akan bisa hidup tenang lagi.

Anehnya, kita selalu takut, walaupun pelakunya adalah orang terdekat kita sendiri. (Menurut saya, justru karena mereka adalah orang terdekat, kita semakin segan untuk menegur karena takut akan perubahan sikap mereka terhadap kita.)


Manusia memang pada dasarnya tidak senang terhadap perubahan, walaupun perubahan itu membawa kebaikan. Manusia senang kepada hal-hal lama yang telah menjadi kebiasaan dan bagian hidup, walaupun itu buruk bagi mereka, karena mereka telah terjebak dalam zona nyaman mereka.
Begitu juga dengan saya.

Karena saya juga begitu, maka lebih mudah untuk saya untuk memahami mengapa orang lain melakukan ini dan itu - walaupun hal tersebut buruk - saya akan berpikir, 'Oh, mungkin memang begitu yang biasanya mereka lakukan'. 


Tadi siang, guru agama saya berkata bahwa hukum melakukan Nahi Munkar adalah wajib. Teman saya juga bercerita bahwa Allah pernah mengazab suatu kaum yang buruk perilakunya tanpa menyelamatkan seorang yang saleh di antara mereka, dikarenakan orang tersebut tidak pernah mencegah teman-temannya berbuat buruk walaupun ibadahnya baik.

Sekarang, setelah saya mengetahui ini, beranikah saya melakukan Nahi Munkar?

Saya harap begitu.

-NS





"Amar Ma'ruf Nahi Munkar"

Posted on

Tuesday, September 9, 2014

Category

,

Hello!

It's been a while since the last time I post something on this blog (well, three months are not exactly 'a while' though). But don't judge me, I have reasons!

First and foremost, I am now a 12th grader, which explains a LOT of my absence from this blog. In case you don't know, grade 12 is the final stage of high school education in Indonesia. Which means there will be exams and tests for graduation, and for our future too, because this stage is kind of crucial for it determines which university will we be in. Actually school starts on July 7th, but because we had our practical exam for Religion, Al-Quran, and Arabic we didn't really study anything back then. And then the Eid came up and we had a three-weeks-holiday (which rarely happens!), and now here I am, on my 3rd week of school.

Well, to speak honestly, us 12th graders only have approximately 7 months to learn our new materials AND to prepare for the National Exam (which consists of materials from grade 10-12), so this year is going to be hectic! (Or at least busier than last year, I'm not sure which one.)

Second, I kind of don't have anything interesting to write about. My three-weeks-holiday was just like another holiday, and I don't think there are some events I should highlight and tell you about. 

Third, I rarely have my me-time lately. I don't know whether I should be happy or annoyed about this, but my sister barely leaves my room everyday. I think she almost always stays here, unless it's bed time or she get pissed at me. I think I am more of a loner now, because I enjoy solitude more than before. I guess it's just an outcome of my growing up. Well, I think I achieve much more when I'm alone than when I'm not.
That's why sometimes I get annoyed of my sister being in my room, because I can't concentrate like when I'm alone when I'm not.

And the correlation of that as my third reason, is that I enjoy writing alone. As I have told you before, I achieve much more when I'm alone than when I'm not.

By the way, after posting this, I can't promise that I'll be writing again shortly. As I have told you before, this year is the final year of my education phase in high school, so I guess most of my spare time will be used for studying instead of writing. 

I hope you won't be tired of waiting!


- N. S.

I'm Back, People!

Posted on

Monday, August 25, 2014

Category

,

Misread - Kings of Convenience
 
If you want to be my friend
You want us to get along
Please do not expect me to
Wrap it up and keep it there
The observation I am doing could
Easily be understood
As cynical demeanor
But one of us misread

And what do you know
It happened again

A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn't notice
Friendship is an end
What do you know
It happened again

How come no-one told me
All throughout history
The loneliest people
Were the ones who always spoke the truth
The ones who made a difference
By withstanding the indifference
I guess it's up to me now
Should I take that risk or just smile?

What do you know
It happened again
What do you know
 
 

Sudah lama saya tidak posting. Walaupun masa ini masih termasuk awal masuk sekolah setelah liburan, kesibukan saya sudah menggunung rasanya..
 
Saya awali post kali ini dengan lirik lagu berjudul Misread oleh Kings of Convenience.
 
Mengapa?
 
Karena saya merasa lagu ini sangat cocok dengan keadaan saya sekarang.
 
Saya membaca di songmeanings.com, menurut sebagian besar orang makna lagu ini adalah tentang seseorang yang biasa berkata apa adanya. Saat dia berteman, dia tidak bisa meninggalkan kebiasaannya untuk berkata apa adanya, termasuk tentang kekurangan temannya. Sebenarnya dia tidak bermaksud jahat; dia hanya ingin membuat temannya sadar dan memperbaiki kesalahannya sehingga temannya menjadi orang yang lebih baik. Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima 'kritik' ini, sehingga akhirnya temannya tadi meninggalkannya karena menganggap dia hanya bisa memberi kritik saja.
 
 
................................
 
 
Saya memang bukan orang yang biasa berkata apa adanya seperti yang dikatakan oleh lagu ini, tapi saya adalah orang yang memberitahu teman saya jika saya merasa dia melakukan hal yang salah. Maksud saya adalah agar teman saya bisa memperbaiki kesalahannya dan menjadi orang yang lebih baik, tapi teman ini malah, saya rasa, menjauhi saya.
 
Saya jadi bertanya-tanya, bukankah salah satu guna teman adalah untuk mengingatkan temannya jika ia bersalah atau lupa? Salah seorang teman saya di sekolah bilang, seharusnya sebagai teman, saya menerima teman saya 'apa adanya'. Tapi jika istilah 'apa adanya' ini mengandung suatu hal yang buruk, yang masih bisa kita tolong untuk diperbaiki, mengapa kita harus diam dan membiarkan teman kita jatuh ke jurang akibat kesalahan yang dia tidak sadari?
 
Apakah saya telah 'menuntut' teman saya terlalu banyak, sehingga dia menjauh? Apakah sebenarnya salah jika saya ingin membantu teman saya menjadi orang yang lebih baik?
 
Saya selalu berkata kepadanya, saya suka teman yang saling terbuka terhadap temannya yang lain. Teman yang mau mengingatkan saya jika saya bersalah. Teman yang berani berargumentasi jika pendapatnya tidak sama dengan saya. Teman yang percaya kepada saya sehingga dia tanpa ragu memberitahu saya kesalahan saya. Tapi sepertinya selama ini, hanya saya yang percaya kepadanya. Hanya saya yang 'cerewet' mengingatkan dia. Dan dia hampir tidak pernah mengatakan kepada saya jika saya bersalah kepadanya atau kepada orang lain.
 
Saya merasa dia seringkali tidak setuju dengan saran-saran yang saya berikan, dan hanya berkata 'ya' supaya saya diam dan tidak mengganggunya lagi.
 
Yah, itu hanya perkiraan saya saja. Sayangnya saya tidak bisa mengetahui penyebab sebenarnya dengan pasti karena dia tidak pernah mengatakannya.
 
Sepertinya kali ini saya tidak akan menanyakan penyebab perubahan sikapnya. Kali ini saya tidak akan berbicara kepadanya dulu kecuali tentang urusan yang mendesak atau jika dia mengajak saya bicara.
 
Rasanya saya ingin berhenti mempercayai dia..
 
Walaupun saya yakin dia tidak akan membaca posting ini, menulis di blog membuat hati saya lebih lega.
 
Jadi, terima kasih buat yang sudah membaca posting yang tidak penting ini. Terima kasih telah mau mendengarkan saya :)
 
 
 
 

 
 

Misread

Posted on

Friday, January 17, 2014

Category

Hari ini, salah seorang teman saya mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat saya berpikir.

"Kita bukan mencari teman yang cocok, tapi mencari yang sependapat dengan kita biar kita nggak sendirian."

Saya baru sadar tentang hal ini, hal yang saya lakukan tetapi tidak saya sadari.

Tadi saya sudah berpikir tentang hal ini, dan inilah hasil renungan saya:

Kita, baik disadari atau tidak, selalu ingin menjadi mayoritas daripada minoritas. Hal ini mempengaruhi pertemanan kita: dengan siapa kita berteman.

Di suatu kelompok pertemanan yang orang-orangnya bertolak belakang dengan kita, kita merasa tidak nyaman. Merasa menjadi satu-satunya yang 'diserang' dan 'kalah' saat kita menyuarakan pendapat kita, yang berbeda dengan pendapat mereka.
Karena ketidaknyamanan inilah kita memutuskan untuk mencari teman lain yang sependapat supaya kita bisa menjadi golongan mayoritas, golongan yang lebih kuat.

Saya rasa hal ini sedang saya saksikan sekarang, di awal tahun 2014 ini. And it's been going for a while now.




Majority

Posted on

Wednesday, January 8, 2014

Category

,

,